You are here:  / Artikel / Taman Nasional / Detak Kehidupan di Jantung Borneo

Detak Kehidupan di Jantung Borneo

“hamparan danau yang luas menuai fungsi hidrologis sebagai sistem penyangga kehidupan. Ekosistem terrestrial berpadu harmoni dengan ekosistem perairan. Dalam kekayaan jasa ekosistemnya, tertiup ruh peradaban manusia”

 

Senja mulai menyingsing kala kami masih menyisiri jalan menanjak menuju puncak Bukit Tekenang. Sembari beristirahat kami layangkan pandangan ke belakang. Keindahan Danau Sentarum sekarang telah berada di hadapan. Hamparan danau luas yang mengering, menyisakan gugusan hutan berkelompok membentuk koloninya masing-masing. Disela-selanya meliuk-luik aliran sungai kecil yang bermuara ke Sungai Tawang. Ditengah anakan Sungai Kapuas tersebut, speed boat seorang nelayan membelah keheningan air. Diatas gelombang yang muncul, terpantul cahaya senja yang mulai redup dihantam kegelapan malam.

Senja menemani langkah kami saat berupaya menuju puncak Bukit Tekenang. Berada di jantung taman nasional, Bukit Tekenang menjulang di tengah-tengah hamparan danau musiman tersebut. Bagaikan jendela, dari bukit inilah kami dapat mengintip keagungan cakrawala dan lukisan megah Danau Sentarum. Luasnya lanskap danau dapat dilihat dalam sekali pandang saat setelah kami sampai di puncak. Dari cakrawala timur sampai barat, pandangan dapat menyapu panorama tanpa halangan.

Saat ini yang berada dalam pandangan kami adalah wajah Danau Sentarum saat di musim kemarau. Antara periode Bulan Juli hingga September, hamparan yang awalnya danau besar tersebut berubah menjadi daratan yang menyisakan aliran-aliran air dangkal, tanah berlumpur hingga kerak tanah yang retak akibat kekeringan. Sisa-sisa air hanya ada di sungai-sungai besar; Sumpak, Embaloh, Leboyan, Tawang, dan Tengkidap. Saat musim kemarau inilah Danau Sentarum menunjukan perannya sebagai penjaga stabilitas hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas.

Bagaikan urat nadinya, Sungai Leboyan dan Sungai Tawang menggelontorkan air dari Danau Sentarum hingga 50 persen volume airnya untuk menjaga kehidupan aliran Sungai Kapuas sebagai sungai terpanjang di Indonesia yang panjangnya kurang lebih 1.143 km, melebihi panjang Pulau Jawa. Danau Sentarum akan mengalirkan airnya untuk mengisi volume Sungai Kapuas yang mulai surut dan menjaga pasokan air bagi kehidupan manusia sehingga menghindarkan hilir dari bencana kekeringan. Peran hidrologi Sentarum ini menyokong kehidupan manusia sejauh wilayah hilir di Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat.

Sebaliknya pada periode musim hujan antara bulan Oktober sampai Juni, perlahan namun pasti air mulai menggenangi gugusan danau-danau kecil, cekungan dan sungai dangkal hingga membentuk kesatuan danau tunggal yang sangat besar. Aliran air tersebut masuk ke Danau Sentarum hingga mencapai 1.000 meter per kubik per detik, yang menaikan muka air 10-12 meter dari titik terendah di musim kemarau. Aliran air terus berangsur masuk hingga mencapai keseimbangan dan terciptalah ekosistem hamparan banjir (foodplain) terluas di Asia Tenggara. Disebut sebagai ekosistem hamparan banjir (foodplain) karena fenomena pasang surut tersebut terjadi saat pergantian musim sehingga yang awalnya hamparan dataran kering terisi oleh air bak banjir menggenangi hingga membentuk danau raksasa.

Cakupan ekosistem hamparan banjir ini seluas 127.393 hektare – dua kali lebih luas dari Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Dalam musim hujan inilah, Sungai Leboyan dan Sungai Tawang berubah peran menjadi pembuluh balik yang mengalirkan luapan air Sungai Kapuas menuju Danau Sentarum sebagai jantungnya. Danau Sentarum akan terus menerima luapan volume air Sungai Kapuas dan menyimpannya sehingga menghindarkan kehidupan hilir dari bencana banjir. Dengan demikian Danau Sentarum terus memainkan peran sebagai ekuilibrium kehidupan yang tertata oleh siklus alam semesta.

Selama ribuan tahun, interaksi yang ditengarai oleh faktor iklim dan faktor geografi memicu Danau Sentarum dan Sungai Kapuas berdetak seirama. Detak tersebut membentuk irama Danau Sentarum sebagai jantungnya dan Sungai Kapuas sebagai pembuluhnya. Lewat jaringan anak-anak sungainya Sungai Kapuas menghubungkan Taman Nasional Danau Sentarum dengan Taman Nasional Betung Kerihun. Dengan letaknya yang berada di hulu, Taman Nasional Betung Kerihun berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang mengalirkan air dari perbukitan melalui sungai-sungai kecil yang bermuara ke Sungai Kapuas.

Dari Sungai Kapuas kemudian air dialirkan ke daerah hilir melewati Taman Nasional Danau Sentarum yang menjadi jantungnya dalam mengatur tata kelola air secara alami. Dengan demikian, secara kasat mata, sistem jaringan tersebut menautkan Betung Kerihun, Sungai Kapuas dan Danau Sentarum dalam bentuk nyata gugusan Jantung Kalimantan atau Heart of Borneo.

Tak heran, sejak tahun 2016 pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menautkan Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum dalam satu pengelolaan tunggal berbentuk Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Upaya ini dilakukan untuk mensinergiskan pengelolaan terhadap dua kawasan yang bernilai penting di Kalimantan tersebut.

Sistem jaringan yang telah bertaut sejak ribuan tahun yang lalu menumbuhkan ekosistem perairan dan daratan yang gemah ripah. Dari tungkup kekayaan alam itulah, mengundang peradaban manusia yang menjadi modal sekaligus tantangan pengelolaan di masa depan.

Narahubung dan Kerjasama Mapala Silvagama

LEAVE A REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked ( required )

Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
Jalan Agro No.1, Bulaksumur, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Telp +6283838654298 (Humas Mapala Silvagama
info : mapalasilvagama@gmail.com