You are here:  / Photo Story / TN Way Kambas / Pasukan Pinggir Kawasan (Photo Story TN Way Kambas)

Pasukan Pinggir Kawasan (Photo Story TN Way Kambas)

Di dalam bingkai foto ; saya melihat kembali hutan hujan dataran rendah Way Kambas, tanahnya tidak ada yang kering. Kami melalui lebatnya pepohonan yang hidup bersaing dengan semak belukar. Kontur naik turun tidak masalah, para gajah dengan mudah menerabas. Sungai atau hanya aliran air sesekali kami seberangi. Spot menguntungkan bagi para gajah, saatnya untuk minum.

Hutan hujan dataran rendah didominasi oleh spesies khas sumatera, Shorea sp (Meranti), Dipterocarpus sp, jenis asli Indonesia, Schima walichii (Puspa), Dilenia sp, Mahang, Trema orientalis (Neriung), dan jenis-jenis kesukaan para badak, Ficus fistulata. Hutan jenis ini merupakan salah satu dari lima jenis ekosistem yang ada di Way Kambas empat yang lainnya adalah hutan rawa, hutan bakau, hutan pantai, dan hutan riparian. Analisis citra satelit menunjukkan sebagian besar lahan kritis yang terdapat di taman nasional way kambas merupakan tipe ekositem hutan hujan dataran rendah, selain ekosistem rawa, akibat pembalakan kayu.

Di dalam bingkai foto ; Jerat-jerat yang berkarat dikumpulkan dari dalam hutan. Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan kawan-kawan ERU (Elephant Respon Unit) adalah Patroli Jerat. Terkadang kawat-kawat ini ditujukan bukan untuk gajah, badak, ataupun harimau. Melainkan babi, rusa, atau kijang. Tetap saja tidak ada yang baik dari keberadaan jerat ini. Selain ada kemungkinan terkena satwa-satwa yang dilindungi, tertangkapnya satwa lainnya juga akan mengurangi populasi satwa mangsa, khususnya bagi Harimau Sumatera.

Di Taman Nasional Way Kambas, jerat-jerat untuk satwa masih sering ditemukan. Dengan keanekaragaman satwa yang tinggi, perburuan menjadi permasalahan utama yang dihadapi. Tujuh ekor Gajah Sumatera telah mati di tahun 2015, dengan kondisi kehilangan gading dan gigi. “Kematian gajah yang ada kebanyakan karena perburuan. Sudah ada sosialisasi dan program pemberdayaan masyarakat, saya jadikan masyarakat sekitar taman nasional itu sebagai pagar pengaman kawasan taman nasional dengan harapan tidak ada lagi gajah-gajah yang mati” ujar Pak Subakir, Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas.

Di dalam bingkai foto ; Tengah hari yang terik. Kami berkesempatan turut serta dalam patroli. Gajah-gajah terlatih dimanfaatkan untuk membantu penjaga menerjang medan yang sulit. Dengan patroli, kawan-kawan ERU dapat memberikan informasi di mana posisi gajah liar saat ini. Mereka bisa membaca jejak dan memperkirakan keberadaan rombongan gajah liar. Dengan begini, masyarakat tidak perlu menjaga ladang setiap malam.

Di dalam bingkai foto ; Tiga Mahout memanfaatkan waktu senggang di tengah hari. Setelah memandikan dan membawa gajah masing-masing ke tengah ladang untuk makan, para mahout beristirahat di camp. Tidak banyak yang bisa dilakukan saat tidak musim gajah keluar seperti saat ini (Januari, 2017). Rutinitas pagi berjalan dengan tenang : memandikan dan mengantar ke ladang. Berbanding terbalik saat musim panen tiba dan rombongan gajah mulai menampakkan tanda-tanda pergerakan keluar kawasan. “Kami bergantian menjaga pos pengamatan. Siang dan malam harus selalu siaga di perbatasan. Untungnya saat ini masyarakat sudah menerima keberadaan kami dan ikut berperan dalam penjagaan”. Konflik gajah dengan manusia sudah tidak segenting dulu, saat manusia belum menemukan cara untuk mencegah rombongan gajah keluar dan menghabiskan calon panen. Berdirinya tiga camp ERU (Elephant Respon Unit) sejak tahun 2011 menjadi solusi yang menengahi kedua kepentingan, kelestarian gajah dan keberlangsungan kehidupan manusia.

Di dalam bingkai ; Camp malam hari. Seorang Polhut (Polisi Hutan) menunjukkan pada kami jalur-jalur pergerakan rombongan gajah. Dalam penjelajahan untuk mencari makanan, gajah membutuhkan home range (wilayah jelajah) yang luas dan melakukannya secara berkelompok, mengikuti jalur yang tetap dalam satu tahun penjelajahan. Menurut Syamsuardi (2005), gajah dapat berjalan sejauh 7 km per hari dan mampu mencapai 15 km per hari ketika musim kering atau musim buah-buahan.

Di dalam bingkai ; Berada di tengah perbatasan. Tanggul-tanggul dibangun di pinggiran, bersisian dengan sungai. Sebelum adanya camp ERU, tanggul dibangun mengelilingi kawasan taman nasional untuk mencegah para gajah keluar. Tanggul-tanggul rupanya belum cukup, gajah masih bisa berenang menyeberang. Di sepanjang tanggul dibangun seadanya pos pengamatan.

Di dalam bingkai ; Seorang bocah pulang dari memanggil kerbau-kerbaunya yang sedang mencari makan di rawa. Penggembalaan liar juga menjadi masalah yang dihadapi oleh taman nasional. Kerbau dan sapi dilepasliarkan di dalam kawasan, menjadi pesaing makanan yang cukup mengkhawatirkan bagi gajah. Pada tahun 2010, masyarakat telah mendapat penyuluhan mengenai keberadaan ternak yang tidak seharusnya digembala di dalam kawasan. Saat gambar ini diambil (2017), kami masih menjumpai kerbau-kerbau yang asik melahap rumput. Tanpa tahu itu kawasan atau bukan.

Di dalam bingkai ; Sepasukan gajah sengaja ditempatkan di perbatasan. Gajah-gajah di sini cenderung berbadan lebih besar dibanding gajah-gajah di PKG (Pusat Konservasi Gajah). Selain harus kuat, gajah di camp ERU juga harus pintar menggiring rombongan gajah liar untuk masuk kembali ke dalam hutan. Camp ERU Margahayu mempunyai lima gajah dewasa, satu diantaranya adalah jantan tertua di Way Kambas, Toni, dan satu gajah balita yang dikandang sendiri, Amel.

Mahasiswa Pencinta Alam ''Silvagama'' Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2013. Saya tidak kejar gelar, saya kejar ilmu dan pengalaman.

LEAVE A REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked ( required )

Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
Jalan Agro No.1, Bulaksumur, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Telp +6283838654298 (Humas Mapala Silvagama
info : mapalasilvagama@gmail.com