You are here:  / Artikel / Taman Nasional / Harta di Sudut Negeri (Artikel TN Wasur)

Harta di Sudut Negeri (Artikel TN Wasur)

 

 

Taman Nasional Wasur merupakan taman nasional paling timur Indonesia yang wilayahnya berbatasan langsung dengan  Papua Nugini. Taman nasional ini ditunjuk pada tanggal 23 Mei 1997 dengan luas 413.810 Ha. Secara administratif terletak pada Kabupaten Merauke Provinsi Papua. Taman Nasional Wasur memiliki potensi flora dan fauna yang cukup tinggi. Beberapa hal yang masyhur dari taman nasional ini adalah keindahan alam yang terjaga beserta budaya masyarakat suku lokal yang masih dipegang teguh.

MASYARAKAT “PEMBURU”

Mereka menyebutnya dengan nama masyarakat Malind Anim, Masyarakat suku asli yang mendiami kawasan Taman Nasional Wasur. Dalam masyarakat ini dibagi menjadi empat suku yakni Suku Malind Imbuti, Suku Kanume, Suku Marori Men Gey, dan Suku Yeinan. Masyarakat malind Anim sangat menggantungkan hidupnya dengan alam. Alam dengan semua yang ada didalamnya adalah tempat mereka untuk mencari makan, dan bertahan hidup. Faktor tingkat pendidikan yang masih rendah dan kebiasaan yang membudaya di duga menjadi penyebab sulitnya mengubah pola pikir masyarakat tentang alam. Salah satu bentuk ketergantungan yang menjadi “dilema” bagi pihak pengelola adalah kegiatan perburuan.  Berburu sebagai salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat suku masih menjadi bagian dari budaya yang dibawa turun temurun. Kegiatan perburuan tidak pernah dilarang atau dihapuskan oleh pihak Taman Nasional. Asalkan kegiatan itu dilakukan secara tradisional, dan hanya untuk memenuhi kebutuhan keseharian masyarakat saja, sesuai dengan peraturan yang di tetapkan mengenai zona pemanfaatan khusus sebagai tindakan konservasi dengan berbagai bentuk penerapannya. Karena butuh proses yang panjang dan bukan hal yang mudah pula dalam mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah terbiasa di “layani” oleh alam. Jika di tahun 70-an hingga awal tahun 2000-an perburuan menjadi suatu kebiasaan bahkan membudaya bagi masyarakat lokal, maka beberapa tahun terakhir intensitas kegiatan  perburuan sudah mulai menurun. Bukan karena masyarakat yang sudah bosan dengan daging buruan, namun seiring berjalannya waktu, satwa – satwa buruan tersebut, terutama Kanguru sebagai logo taman nasional dan sekaligus merupakan objek buruan masyarakat sudah cukup sulit untuk ditemui belakangan ini.

img_5125

Wallaby merupakan sumber protein bagi suku Malind Anim (Foto : Gigih Hardia)

Menurut tetua suku, berburu kanguru menjadi kegiatan yang dilakukan sesuai kalender atau perhitungan hari masyarakat itu sendiri, dimana pertimbangan utamanya adalah musim. Ketika musim hujan akan cukup sulit dilakukan perburuna karena sejauh kaki melangkah tidak akan jauh dari rawa dan rawa. Namun, pada intinya di musim apapun masyarakat suku tetap membutuhkan hasil buruan sebagai sumber utama makanan mereka. Maka, bukan berarti perburuan tidak dilakukan selama musim hujan tersebut, hanya tekniknya saja yang berbeda.

KEPERCAYAAN MALIND ANIM

Kearifan lokal pada masyarakat adat Taman Nasional Wasur menjadi suatu media untuk membantu dalam mengelola sumberdaya alam sekitar agar tetap lestari.  Kearifan lokal yang dipegang teguh antara lain adalah totemisme, dan sasi.

Totem merupakan kepercayaan suku Malind Anim terhadap satwa dan tumbuhan yang telah dianggap dan dipercaya sebagai nenek moyang/leluhur mereka. Sehingga dalam memanfaatkan satwa dan tumbuhan tersebut harus dengan aturan-aturan adat. Setiap marga memiliki totem yang berbeda-beda sehingga apabila suatu marga ingin memanfaatkan satwa atau tumbuhan yang menjadi totem, marga tersebut harus meminta izin terhadap marga yang meiliki totem tersebut.

img_2510

Menuju sarang Wallaby untuk berburu (Foto oleh : Gigih Hardia)

Sasi oleh para konservasionist didefenisikan sebagai suatu ritual yang dibuat untuk mengatur pemanfaatan sumber daya alam agar dalam pemanfaatannya dilakukan secara bijak. Ritual sasi dilakukan oleh masyarakat yang mempunyai wilayah atau jenis yang disasi dan dihadiri oleh semua marga yang ada dan kepala Suku atau orang yang ditetuakan. Ritual sasi dalam beberapa suku di dalam kawasan dikenal dengan nama Cal (Suku Yeinan);  Sal  (Suku Kanumee); Sarr ( Suku Marori) yang pada intinya masing masing bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi binatang buruan dan atau tanaman untuk berkembang biak.

Ritual  pelaksanaan sasi umumnya dilakukan dengan mengikatkan alangalang dan janur kelapa pada tiang pancang, pohon mati, kayu yang disilangkan atau diletakkannya atribut sasi seperti yang dipasang pada batas-batas dusun atau jalur akses masuk. Atribut ritual pelaksanaan sasi biasanya akan berbeda untuk mencirikan asal marga yang melakukan sasi, seperti marga Ndimar pada suku Kanume, atribut  yang  digunakan adalah dengan memasang buah kelapa dan alang-alang di lokasi sasi. Jenis-jenis sasi yang dilakukan oleh masyarakat suku  asli tersebut  berupa  sasi rawa, sasi dusun sagu, sasi dusun kayu, sasi kebakaran dan sasi satwa. Pelaksanaan sasi pada suku Kanume dilakukan oleh pawang adat dimana sang pawang memanah ke atas sambil menyebut lokasi satwa yang akan disasi sampai panah mengenai tanah. Cara tidak langsung: upaya penerapan sasi dilakukan dengan memberikan informasi dan pengumuman kepada masyarakat atau marga lainnya di kampung terhadap tempat tertentu, hewan, jenis kayu, tanaman atau ikan yang mengalami degradasi atau depresi untuk diketahui dan diindahkan.

img_2433

Seorang ibu dengan anaknya memasak hasil buruan (Foto oleh : Gigih Hardia)

Kearifan lokal merupakan suatu nilai yang mengajarkan masyarakat pengertian sederhana seperti apa bentuk konservasi sumber daya alam itu. Nilai nilai kearifan lokal tersebut diajarkan secara turun temurun oleh para tetua masyarakat suku asli sejak dini guna keberlangsungan hidup mereka. Namun seiring berjalannya waktu, sejak adanya interaksi dengan budaya masyarakat pendatang, nilai nilai tersebut kian hari kian luntur. Muda mudi suku, pun lebih tertarik untuk hal hal yang instan dan cepat kelihatan hasilnya. Pada zaman dulu, berburu mungkin masih efektif untuk dilakukan karena tingkat kebutuhan masyarakat yang masih tergolong sangat sederhana dan bersahabat dengan alam. Pada masa ini tentu tidak bisa disamakan tingkat kebutuhannya dengan masa terdahulu, para tetua mereka.  Alam terus berkembang, berubah sesuai siklusnya dan manusia adalah pihak yang berperan dalam mempercepat atau memperlambat siklus tersebut.  Dibentuknya Taman Nasional hanya untuk memperlambat habisnya sumber daya alam tersebut, karena suatu saat nanti pasti akan habis juga.

img_5576

Ditulis oleh : Deti Kurnia (Tim Ekspedisi 50 Taman Nasional “TN Wasur”)

Kontributor : M Fariz Nasution (Tim Ekspedisi 50 Taman Nasional “TN Wasur”)

Gigih Hardia Dwi (fotografer)

 

Narahubung Mapala Silvagama | TIm Ekspedisi 50 Taman Nasional

LEAVE A REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked ( required )

Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
Jalan Agro No.1, Bulaksumur, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Telp +6283838654298 (Humas Mapala Silvagama
info : mapalasilvagama@gmail.com